bahwa tujuan dari pendidikan seks disesuaikan dengan perkembangan usia, yaitu sebagai berikut:
Usia balita (1-5 tahun); memperkenalkan organ seks yang dimiliki, seperti menjelaskan anggota tubuh lainnya, termasuk menjelaskan fungsi dan cara melindunginya.
Usia sekolah (6-10 tahun); memahami perbedaan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), menginformasikan asal-usul manusia, dan membersihkan alat genital dengan benar agar terhindar dari kuman dan penyakit.
Kemudian, Usia menjelang remaja; menerangkan masa pubertas dan karakteristiknya, serta menerima perubahan dari bentuk tubuhnya. Usia remaja; memberi penjelasan mengenai perilaku seks yang merugikan – seperti seks bebas, menanamkan moral dan prinsip “Say No” untuk seks pranikah, dan membangun penerimaan terhadap diri sendiri. Usia pranikah; membekali pasangan yang ingin menikah mengenai hubungan seks yang sehat dan tepat. Usia setelah menikah; memelihara pernikahan melalui hubungan seks yang berkualitas dan berguna untuk melepaskan ketegangan dan stres.
Satu hal lagi yang perlu mendapat perhatian adalah cara penyampaian, sehingga pendidikan seks dapat diberikan secara baik dan benar. Pendidikan seks paling baik dilaksanakan di dalam keluarga, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk diadakan di sekolah atau di komunitas tempat anak bersosialisasi. Pembicaraan mengenai seks bersifat pribadi, sehingga orang tua perlu menciptakan suasana yang akrab dan terbuka.
Pendidikan seks sebaiknya dilakukan dengan pendekatan pribadi, berbeda untuk setiap anak karena tahap perkembangan dan pengetahuannya tidak sama. Penyampaian harus wajar dan sederhana, sehingga dapat menepis anggapan bahwa pembicaraan mengenai seks tabu. Seluruh informasi yang disampaikan harus objektif, sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh anak dan kesalahan persepsi tidak terjadi (tribunkaltim.co.id, 2007). Bermacam media dapat digunakan sebagai alat bantu penyampaian, seperti buku-buku, model 3D, program komputer, dan internet.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar